Yuwan Ariestiyan
Life is Good

Word by : @jaba_baja

Sebuah kesempatan langka untuk pergi menemani dan mendokumentasikan kegiatan salah satu band favorit saya Taring untuk menjalani Tour Jepang. Cerita menarik dimulai ketika sedang mencari tiket penerbangan dan penginapan dari mulai limit transaksi rekening sampai pemilihan tempat penginapan yang sangat hati-hati karena harus memperhitungkan jarak dari venue ataupun jarak dari penginapan menuju stasiun MRT terdekat. Dan akhirnya semuanya beres termasuk mengurus visa untuk memasuki negara Jepang yang memang kami semua belum memiliki e-passport sehingga harus mengurus visa melalui salah satu travel agen di Bandung.

Hari keberangkatan menuju Jepang pun tiba, kami berangkat menuju bandara Soekarno Hatta hari Selasa(16/4) tengah malam karena harus mengejar flight jam 08.55 dan perjalanan darat Bandung – Jakarta melalui tol pada saat itu memang tidak bisa ditebak waktu tempuhnya. Kebetulan pada malam itu tol Cikampek lumayan bersahabat, kami beruntung sehingga kami pun kepagian sampai di Bandara Soekarno Hatta. Setelah menghabiskan waktu di Soekarno Hatta akhirnya perjalanan ke Jepang pun dimulai dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur, Malaysia. Waktu transit pun tidak terlalu lama, sehingga kami hanya menghabiskan waktu di dalam bandara Kuala Lumpur dengan makan dan tentu saja numpang wi-fi bandara untuk mengabari saudara ataupun kerabat di rumah. Perjalanan disambung lagi dengan menggunakan pesawat Air Asia yang lebih besar menuju ke Haneda, jepang. Perjalanan di atas udara ditempuh sekitar selama 6 jam.

Sesampainya di Haneda, kami dijemput oleh Kang I’bey salah satu pekerja KBRI asal Bandung yang kebetulan merupakan salah satu kerabat dari Gebeg. Cuaca di Tokyo pada malam itu katanya hangat bagi mereka yang tinggal di sana, bagi kami ini anginnya gede banget dan dingin pula. Untung saja nggak salah kostum make celana pendek. Kami pun diantar oleh Kang I’bey ke salah satu penginapan yang berada didaerah Asakusa. Pagi hari setelah istirahat di penginapan kami bertemu dengan Ricky Insanity dan Kim dari Belanda setelah bertemu kembali dijemput oleh rekan Kang I’bey, yaitu Tadao yang seharian mengantar kamui ke KBRI dan daerah-daerah terkenal di Jepang, seperti Harajuku, Shibuya, dll. Dan kami pun berpindah penginapan ke daerah Kanda. Hari pertama kami habiskan dengan jalan-jalan di Asakusa Temple karena besok gigs pertama Taring akan dimulai. Esok hari kami pun berjalan menuju stasiun MRT Kanda menuju ke Disk Union Ochanomizu karena janjian dengan Tomoki dari Kandarivas dan Seringai. Ternyata yang dateng menemani Ono dari Kandarivas dan Tomoki akan menyusul, karena Tomoki tiba-tiba harus ada operasi, karena dia merupakan salah satu dokter bedah terbaik di Jepang. Akhirnya kami bertemu dengan Ono dan juga Seringai di Ochanomizu dan melakukan Disk Union tour untuk promo acara Everloud.

Taring, Seringai & Insanity

Setelah beres Disk Union tour, kami bergegas menuju ke venue pertama gigs Taring di Tokyo yaitu Merry-Go-Round di kawasan Shinjuku. Perjalanan pun kami tempuh dengan berjalan kaki lumayan jauh sekitaran 30 menit berjalan kaki dengan membawa gitar, snare, bass dan equipment lainnya. Akhirnya kami sampai di Merry- Go- Round sebuah bar yang kecil berada di sebuah kawasan pertokoan kecil ditengah-tengah pemukiman. Taring menjadi penampil pertama di acara tersebut, setelah Taring tampil Gebeg dan Yuwan harus bergegas pergi untuk membantu Ricky dan Aguy menuju venue dimana Insanity akan tampil. Gigs pertama di Tokyo pun berhasil dijajal oleh Taring dengan ciamik. Gigs berikutnya Everloud Japan di Wildside Tokyo.

Kami berangkat dari penginapan kembali dengan berjalan kaki menuju stasiun MRT terdekat untuk menuju Wild Side Tokyo ditemani oleh teman-teman dari Viking Jepang yang membantu kami selama di Tokyo Jepang . Sesampainya di Wild Side kami menggelar lapakan untuk berjualan merchandise yang telah kami bawa dari Bandung. Letak lapakan merchandise terdapat di depan venue seperti gang kecil yang memisahkan kamar disebuah hotel. Hampir semua band menjajalkan lapakannya disitu. Ada yang menarik perhatian, sebelum acara dimulai Tomoki mengumpulkan semua band yang main di Everload mengenalkan mereka satu persatu dan memberi sedikit kata ucapan. Jadi di wildside ini ada dua stage, yang satu diatas panggung dan yang satunya lagi di bawah tepat didepan panggung. Everload Japan mendapat perhatian yang besar karena ada beberapa band legend Jepang yang tampil disana. Tiket Eeverloud pun habis terjual. Taring di Everload mendapat respon yang sangat bagus, hal itu bisa diliat dari moshpit yang ramai dan mereka menikmati riff-riff hardcore yang groovy dari Gebeg, Angga, Yuwan dan NyankNyak. Everloud Tokyo Japan pun ditutup oleh sesuatu yang baru bagi saya, karena semua band dan yang terlibat diacara tersebut berkumpul kembali, Tomoki kembalo mengucapkan terima kasih kepada semuanya dan diakhiri dengan Kampai!! semua orang memegang gelas berisi minuman dan berteriak Kampai bersama sambil mengangkat gelas.

Gigs ketiga Taring akan diadakan disalah satu bar legend di Jepang yaitu El-Puente di daerah Yokohama. Perjalanan dari penginapan pun harus dimulai lebih pagi karena jarak dari penginapan menuju El-Puente lumayan jauh sekitar 60-90 menitlah. Lagi-lagi kami dibantu oleh teman-teman dari Viking Jepang Bernard dan Dohex yang menunjukan jalan untuk menuju Yokohama. Sesampainya di stasiun dekat EL-Puente kami kembali bertemu dengan Seringai dan salah satu mahasiswa yang sedang berkuliah daerah Yokohama dan memberi kami Indomie Goreng untuk pasar di Jepang. Lingkungan sekitar El-Puente berbeda jauh dengan daerah Tokyo sebelumnya, daerah ini terlihat lebih sepi mobil yang melewati bar El-puente pun bisa dihitung jari. Burung gagak sesekali terlihat hinggap diatas kabel listrik dan sungai didepan El-Puente terlihat begitu jernih dengan ikan-ikan didalamnya. Sebelum acara dimulai, Tomoki kembali mengenalkan semua band dan juga pemilik tempat memberikan sedikit kata sambutan. Selain band dari Indonesia Taring dan Seringai yang lagi tour di Jepang, ada juga band dari Amerika Summoned By Giant yang kebetulan lagi tour Jepang juga dan bertemu di El-Puente. Dan di El-Puente juga saya kembali bisa menyaksikan Fuck On The Beach setelah pada sekitar tahun 2007 lalu pernah nonton mereka ketika tampil di Buqiet Cafe Bandung. Di bar kecil ini pula kami bertemu teman-teman dari Indonesia yang kerja ataupun kuliah di Jepang. Gigs pada malam itu ditutup oleh penampilan dari Seringai yang disambung kembali oleh tradisi Kampai yang dipimpin oleh Tomoki.

Ada sedikit hal yang random, karena tiba-tiba setelah acara kami kembali di jemput oleh Tadao. Padahal nggak janjian tiba-tiba dia datang dan mengantarkan kami pulang kembali ke penginapan. Taring Tokyo Mosh pun berakhir pada malam itu, berbagai cerita dan pengalaman hal yang baru kami dapatkan selama perjalanan ini. Gebeg dan Hardy beserta Kang Aguy dari Insnity haru pulang duluan karena saya, Angga dan Yuwan extend. Yuwan dan Angga harus meneruskan tour mereka dengan band mereka yang lain Devdan dan Asia Minor.

Source : https://www.maternaldisaster.com/beta/taring-tokyo-mosh-2019/

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published.